Minggu, 27 Juni 2021

ARTIKEL REFLEKSI PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

                    PGP-1-Kabupaten Deli Serdang-Suharianto-Aksi Nyata Paket Modul 3

Nama Program “Samusaman” (Satu Murid Satu Tanaman)

Oleh : Suharianto

Dibimbing Oleh Fasilitator Ibu Yetty Fatri Dewi

Pendamping Ibu H.Aisyah Hasibuan

A.  A.Peristiwa (Facts)

1.  Latar Belakang Tentang Stuasi yang dihadapi

Sekolah memiliki tujuh modal atau aset yang potensial, mulai dari aset manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan alam, modal finansial, modal politik, modal agama serta modal budaya, dan hal ini perlu dikembangkan agar aset-aset tersebut lebih benar-benar bisa berdampak pada murid dan dapat menjadi sarana serta pendorong dalam mencapai visi sekolah yaitu Terwujudnya peserta didik yang beriman dan bertakwa, berkarakter, berprestasi dan Peduli lingkungan.

Dalam rangka mewujudkan peserta didik yang peduli lingkungan, perlu pembiasaan dan pemahaman yang baik bagi murid dalam pemeliharaan tanaman, baik itu tanaman jenis bunga atau pohon buah-buahan yang bisa dimanfaatkan untuk memperindah lingkungan sekolah dan juga memupuk sikap tanggung jawab, mandiri dan peduli lingkungan dalam diri murid, maka perlu dilakukan sebuah program peduli lingkungan bagi murid-murid yaitu Program “SAMUSAMAN” (satu murid satu tanaman).

Pelaksanaan program Satu Murid Satu Tanaman (Samusaman) didasari oleh modal atau aset yang cukup baik yang ada di sekolah, terutama modal manusia, modal sosial dan modal lingkungan alam. Modal manusia, yaitu guru-guru yang berpengalaman dalam perawatan tanaman/bunga, murid-murid yang potensial dalam pelestarian lingkungan namun belum optimal muncul dalam pembiasaan sehari-hari dan perlu pemahaman yang baik serta pembiasaan dalam perawatan atau kepedulian terhadap lingkungan, dan kepala sekolah yang selalu peduli terhadap keindahan lingkungan, sedangkan modal sosial yaitu orang tua/wali murid yang selama ini selalu memberikan dukungan terhadap program-program sekolah demi untuk meningkatkan prestasi atau peningkatan karakter baik murid, sedangkan modal lingkungan sekolah juga cukup mendukung, karena masih banyak ditemukan tanaman bunga/buah-buahan di sekitar sekolah atau di rumah masing-masing murid, yang bisa dijadikan sarana untuk pembiasaan karakter baik murid dalam penerapan sikap tanggung jawab, mendiri dan peduli terhadap lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

2.        Pelaksanaan Aksi Nyata

Pelaksanaan Aksi Nyata Program Satu Murid Satu Tanaman (Samusaman) yang    dilaksanakan di UPT SPF SDN 10538 Tanjung Siporkis berjalan berkisar selama satu bulan, yaitu di bulan Juli tahun 2021. Adapun tahapan-tahapan yang saya lakukan  adalah sebagai berikut :

-          Merencanakan Program yang berdampak pada murid

-          Melakukan koordinasi dan komunikasi kepada kepala sekolah, rekan guru, orang tua murid terhadap program yang akan dilaksanakan

-          Memberikan pemahaman kepada murid kelas IV dan V SD tentang program yang akan dilaksanakan di sekolah serta tujuan atau manfaatnya bagi murid dan sekolah yaitu program “SAMUSAMAN” (Satu Murid satu Tanaman)

-          Melaksanakan Program kegiatan sesuai rencana dan waktu yang ditentukan

-          Pembagian Polibag/Pot kepada masing-masing murid (Kelas IV dan V)

-          Penanam tanaman (Boleh  Jenis tanaman bunga atau pohon buah-buahan) dalam Polibag atau Pot oleh masing-masing murid

-          Perawatan tanaman (bunga atau Pohon Buah), penyiraman bunga atau pemupukan) oleh masing-masing murid di rumahnya.

-          Monitoring dan Observasi terhadap kegiatan penanaman/perawatan tanaman di rumah murid.

-          Penyerahan tanaman murid kepada wali kelas/guru untuk ditanam dilingkungan di sekolah

-          Perawatan tanaman oleh masing-masing murid setiap harinya (penyiraman) di sekolah.

-  Memberikan reward terhadap murid-muird yang benar-benar merawat tanamannya dengan baik (dari hasil monitoring dan observasi)

-   Menyampaikan hasil observasi dan monitoring kepada rekan sejawat dan kepala sekolah.

-    Merefleksi dan mengevaluasi hasil program yang telah dijalankan dan memberikan perbaikan untuk berikutnya.

 

3.  Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan

Program Satu Murid Satu Tanaman (Samusaman) dilakukan bertujuan untuk menanamkan serta membiasakan murid dalam penerapan sikap tanggung jawab dalam menjalan tugas dan kewajiban, dalam hal ini dalam penanaman dan perawatan tanaman, serta pembiasaan sikap mandiri dan pembiasaan sikap kepedulian terhadap lingkungan.

Dari hasil monitoring dan observasi yang dilakukan, terlihat murid-murid sangat antusias dan senang dalam mengikuti dan menerapkan program ini, murid dari penjelasan tentang apa tujuan dan manfaat program ini dijalankan, pembagian polibag kepada masing-masing murid sebagai tempat untuk menanam tanaman, dilanjutkan dengan penaman tanaman bunga atau pohon buah-buahan oleh masing-masing murid, kemudian penyiraman/perawatan tanaman setiap harinya di rumah masing-masing murid agar tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan selanjutnya penyerahan tanaman tersebut kepada pihak sekolah yang diwakili oleh wali kelas masing-masing.

Sikap atau karakter tanggung jawab murid sudah terlihat dalam diri murid, selama mengikuti program ini, yaitu pada saat murid bersedia menanam serta merawat tanamannya denganb baik di sekitar rumahnya masing-masing berkisar kurang lebih dua minggu lamanya. Sikap mandiri juga sudah terlihat ketika murid mandiri dalam menanam tanamannya, menyiramnya setiap hari tanpa harus disuruh guru atau orang tua, walaupun masih ada beberapa orang murid yang harus diingatkan oleh orang tunya dalam menyiram tanaman setiap harinya. Begitu pula sikap peduli lingkungan murid juga sudah terlihat dalam diri murid, ketika murid bersedia merawat tanamannya masing-masing baik di rumah atau di sekolah dan juga bersedia memberikan tanamannya tersebut kepada pihak sekolah yang diperuntukkan untu memperindah lingkungan sekolah dan membuat sekolah menjadi berseri.

Selanjutnya di akhir program, saya sebagai penangunggung jawab program, melaporkan kepada rekan-rekan guru dan kepala sekolah terkait hasil atau temuan dari pelaksanaan program yang berdampak pada murid yaitu program Satu Murid Satu Tanaman ini (Samusaman) dan meminta saran atau masukan dari mereka (Rekan-rekan guru dan kepala Sekolah) agar program ini bisa berjalan dengan baik kedepannya, dan berharap program ini bisa terus dipertahankan penerapannya, agar bisa menjadikan murid-murid yang berkaarakter baik, berprestasi dan peduli lingkungannya.

Dari hasil observasi juga terlihat bahwa sebagian besar orang tua/wali murid sangat mendukung program ini, dimana orang tua juga ikut andil mengamati tanaman anak, mengingatkan anak apakah tanamannya sudah disiram atau belum setiap harinya. Kemudian orang tua juga menemani anaknya untuk mengantarkan hasil tanamannya ke sekolah untuk di serahkan kepada pihak sekolah untuk memperindah lingkungan sekolah.

B.  Perasaan (Feelings)

      Dalam melaksanakan program Satu Murid Satu Tanaman (Samusaman) awalnya saya merasa ragu hal ini bisa berjalan dengan baik, karena dilaksanakan dimasa pandemic dan juga harus melibatkan banyak pihak, mulai dari rekan-rekan guru sejawat, kepala sekolah, murid-murid, hingga orang tua/atau wali murid, namun setelah program mulai berjalan saya merasa sangat bangga kepada anak-anak murid karena mereka anstusias mengikuti dan menjalan program ini dari awal hingga selesai, kepala sekolah dan rekan –rekan guru juga mendukung penerapan program ini, bahkan orang tua siswa sebagian besar juga mendukung terlaksanakan program ini.

Pada saat melihat murid mulai menanam dan merawat tanamannya secara mandiri disekitar rumahnya masing-masing dan penuh rasa tanggung jawab dalam perawatnnya (murid mengirimkan foto proses penanam dan perawatan dari Aplikasi Whatsapp), mucul perasaan senang dan bangga pada setiap murid, karena tujuan dari pelaksanan program ini bisa tercapai, walaupun harus terus dikembangkan, dibiasakan dan ditingkatkan agar bisa menjadi sebuah karakter baik yang konsisten.

Setelah melaksanakan program ini, ada juga perasaan dan kepercayaan diri untuk dapat mengembangkan program ini pada semua murid an di semua kelas yaitu kelas 1 s.d 6, yang sebelumnya hanya pada kelas 4 dan 5. Pada tahap berikutnya sehingga bisa menerapkan pada semua siswa di sekolah.

C.  Pembelajaran (Findings)

Pembelajaran yang bisa saya dapat dari penerapan program ini yaitu:

1.     Program yang berdampak pada murid akan bisa dilaksanakan dengan baik jika ada kerjasama yang baik dengan semua pihak (Kepala Sekolah, guru, murid dan orang tua/wali murid)

2.    Observasi dan monitoring perlu dilakukan dalam upaya mengawasi, mendorong dan mengontrol sebuah program sekolah apakah program tersebut berjalan dengan baik atau perlu dikoreksi atau diperbaiki.

3.    Untuk menggerakkan orang lain seperti guru rekan sejawat, murid atau orang tua murid diperlukan komunikasi yang baik serta pemberian keteladanan atau contoh yang positif, dan ini terus dilatih dan dibiasakan agar bisa lebih profesioanl kedepannya mampu menggerakkan orang yang lebih banyak dan bisa memberikan perubahan positif yang lebih besar dalam penerapan program yang berdampak pada murid.

4.    Membuat perubahan itu tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar, namun bisa dilakukan dari sesuatu yang kecil dan mudah dilaksanakan, namun apabila perubahan yang kecil itu bisa konsisten diterapkan akan membawa perubahan yang besar juga, seperti halnya program Samusaman ini, jika murid sudah terbiasa dan konsisten untuk merawat dan menjaga tanaman dengan baik setiap harinya, maka akan dapat mewujudkan karakter dalam diri murid dan lingkungan sekolah yang indah.

5.    Pelaporan hasil kegiatan program kepada kepala sekolah atau rekan guru di sekolah perlu dilakukan, untuk dapat mengukur apakah kegiatan dapat berhasil berjalan sesuai dengan perencanaan atau tidak, serta dapat menerima saran atau masukan positif dari semua pihak untuk perbaikan program di masa yang akan datang.

D.  Penerapan ke depan (Future)

Setelah melaksanakan aksi nyata pada modul 3.3. ini tentunya ada beberapa hal yang perlu perbaikan kedepannya, yaitu :

1) Meningkatkan komunikasi dan kerjasama dalam team program di sekolah, sehingga semua pihak bisa berperan aktif secara penuh atas perannya masing-masing,

2)   Komunikasi dan pendekatan yang lebih baik kepada orang tua/wali murid agar para orang tua bisa lebih mendukung  penerapan program-program sekolah yang berpihak pada murid, dan mendorong pembiasaan karakter khususnya sikap tanggung jawab, sikap mandiri dan peduli lingkungan serta sikap positif  lainnya di lingkungan sekolah dan di rumah masing-masing.

3) Pendekatan terhadap beberapa orang murid yang pasif atau terkendala dalam penerapan program, sehingga semua murid diharapkan bisa berperan aktif dalam pelaksanaan program dan mendapatkan manfaat yang lebih besar dalam peningkatan prestasi dan perbaikan karakter yang lebih baik.



Lampiran Foto Kegiatan Aksi Nyata Modul 3.3





























Kamis, 25 Maret 2021

2.3.A.9. KONEKSI ANTARMATERI - COACHING

                                               KONEKSI ANTARMATERI - COACHING

                          Oleh : Suharianto (201698291361)

Dibimbing: Fasilitator : 31-YETTY FATRI DEWI

Pendamping : 103-H. Aisyah Hasibuan

 

A.   FILOSOFI KHD

Mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Tujuan pendidikan itu ‘menuntun tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya

B.    COACHING

1.    Pengertian Coaching

Coaching adalah hubungan kemitraan melalui proses kreatif dan membangkitkan pemikiran yang menginspirasi coachee untuk mendapatkan hasil memuaskan dalam kehidupan personal maupun profesionalnya

Dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini, coaching menjadi salah satu proses ‘menuntun’ kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah untuk mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Harapannya, proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar. 

Masih terkait dengan kemerdekaan belajar, proses coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dalam  dapat membuat murid melakukan metakognisi. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga membuat murid lebih berpikir secara kritis dan mendalam. Yang akhirnya, murid dapat menemukan potensi dan mengembangkannya.

Murid kita di sekolah tentunya memiliki potensi yang berbeda-beda dan menunggu untuk dikembangkan. Pengembangan potensi  inilah yang menjadi tugas seorang guru. Apakah pengembangan diri anak ini cepat, perlahan-lahan atau bahkan berhenti adalah tanggung jawab seorang guru. Pengembangan diri anak dapat dimaksimalkan dengan proses coaching

Proses coaching mengarahkan coachee (Murid) untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan memaksimalkan potensinya. Kemitraan yang setara dan coachee (Murid) sendiri yang mengambil keputuasan terhadap permasalahan yang dialaminya.

2.    Proses Coaching

Coaching  menjadi salah satu proses menuntun belajar murid untuk mencapai kekuatan kodratnya

Peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat

Sebagai seorang pamong. Guru dapat memberikan tuntunan melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif dan efektif agar kekuatan kodrat anak terpancar pada dirinya

3.    Prinsip-prinsip Coaching

         a.     Kemitraan

-       Ditandai oleh adanya tujuan percakapan yang disepakati

-       Idealnya tujuan datang dari coachee

    b.  Percakatan Kreatif

-       Percakapan 2 arah

-       Percakapan dilakukan untuk menggali, memetakan stuasi coachee

-       Percakapan ditujukan untuk menghasilkan pemikiran atau ide-ide baru

c.     Memaksimalkan Potensi

-       Percakapan harus ditutup dengan kesimpulan yang dinyakatan oleh coachee

-       Percakapan menghasilkan renca tindakan

4.    Kompetensi Dasar Coach

Mengingat pentingnya proses coaching ini sebagai alat untuk memaksimalkan potensi murid, guru hendaknya memiliki keterampilan coaching.  Keterampilan coaching ini sangat erat kaitannya dengan keterampilan berkomunikasi. Berkomunikasi seperti apakah yang perlu seorang coach miliki akan dibahas pada bagian selanjutnya dalam modul coaching ini. Selain keterampilan berkomunikasi, beberapa keterampilan dasar perlu dimiliki oleh seorang coachInternational Coach Federation (ICF) memberikan acuan mengenai empat kelompok kompetensi dasar bagi seorang coach yaitu:

1)   Keterampilan membangun dasar proses coaching

2)   Keterampilan membangun hubungan baik

3)   Keterampilan berkomunikasi

4)   Keterampilan memfasilitasi pembelajaran

Empat keterampilan dasar seorang coach seharusnya dapat dimiliki oleh guru ketika memerankan diri sebagai coach.

5.    Teknik Berkomunikasi dalam Coacing

1)   Komunikasi asertif

Sikap asertif adalah kemampuan seseorang untuk berkomunikasi dengan cara yang tegas dan tetap menghormati orang lain. Memiliki kemampuan asertif bisa membantu Anda mengelola amarah sekaligus mengatasi masalah dan stress

Berkomunikasi secara asertif akan membangun kualitas hubungan kita dengan orang lain menjadi lebih positif karena ada pencapaian bersama dan kesepakatan dalam pemahaman dari kedua belah pihak. Kualitas hubungan yang diharapkan dibangun atas rasa hormat pada pemikiran dan perasaan orang lain

2)   Pendengar aktif

Salah satu keterampilan utama dalam coaching adalah keterampilan mendengar. Seorang coach yang baik akan mendengar lebih banyak dan kurang berbicara. Dalam sesi coaching kita perlu fokus bahwa pusat komunikasi adalah pada diri coachee, yakni murid kita. Dalam hal ini, seorang coach harus dapat mengesampingkan agenda pribadi atau apa yang ada dipikirannya termasuk penilaian terhadap coachee.

3)    Bertanya efektif

Bertanya’ pada coaching merupakan kemampuan bertanya dengan tujuan tertentu. Bukan sekedar jawaban singkat yang diharapkan, namun pertanyaan yang diberikan dapat menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan hal-hal yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya, mengungkapkan emosi atau nilai dalam diri dan yang dapat mendorong coachee untuk membuat sebuah aksi bagi pengembangan potensi diri.

4)    Umpan balik positif

Umpan balik dalam coaching bertujuan untuk membangun potensi yang ada pada coachee dan menginspirasi mereka untuk berkarya. Coachee memaknai umpan balik yang disampaikan sebagai refleksi dan pengembangan diri. Secara khusus diberikan pada coachee ketika dalam process coaching, ada hal-hal yang tidak terduga muncul atau hasil dari coaching ini berbeda dari yang coachee pikirkan

6.    Coaching Model TIRTA

TIRTA dikembangkan dari satu model coaching yang dikenal sangat luas dan telah diaplikasikan, yaitu GROW model. GROW adalah kepanjangan dari Goal, Reality, Options dan Will. Pada tahapan 1) Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini, 2) Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee, 3) Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi. Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.

TIRTA kepanjangan dari

T: Tujuan
I: Identifikasi
R: Rencana aksi
TA: Tanggung jawab

Dari segi bahasa, TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. Anda, sebagai guru memiliki tugas untuk menjaga air itu tetap mengalir, tanpa sumbatan

-     Tujuan Umum (biasanya ini ada dalam pikiran coach dan beberapa dapat ditanyakan kepada coachee)

Dalam tujuan umum, beberapa hal yang dapat coach rancang (dalam pikiran coach) dan yang dapat ditanyakan kepada coachee adalah:

a. Apa rencana pertemuan ini?
b. Apa tujuannya?
c. Apa tujuan dari pertemuan ini?
d. Apa definisi tujuan akhir yang diketahui?
e. Apakah ukuran keberhasilan pertemuan ini?

Seorang coach menanyakan kepada coachee tentang sebenarnya tujuan yang ingin diraih coachee.

 -       Identifikasi

Beberapa hal yang dapat ditanyakan dalam tahap identifikasi ini adalah:

a. Kesempatan apa yang kamu miliki sekarang
b. Dari skala 1 hingga 10, dimana kamu sekarang dalam pencapaian tujuan kamu?
c. Apa kekuatan kamu dalam mencapai tujuan
d. Peluang/kemungkinan apa yang bisa kamu ambil?
e. Apa hambatan atau gangguan yang dapat menghalangi kamu dalam meraih tujuan?
f. Apa solusinya?

-  Rencana Aksi

a. Apa rencana kamu dalam mencapai tujuan?
b. Adakah prioritas?
c. Apa strategi untuk itu?
d. Bagaimana jangka waktunya?
e. Apa ukuran keberhasilan rencana aksi kamu?
f. Bagaimana cara kamu mengantisipasi gangguan?

- TAnggungjawab

a. Apa komitmen kamu terhadap rencana aksi
b. Siapa dan apa yang dapat membantu kamu dalam menjaga komitmen?
c. Bagaimana dengan tindak lanjut dari sesi coaching ini?

 Dengan menjalankan metode TIRTA ini, harapannya seorang guru dapat semakin mudah dapat menjalankan perannya sebagai coach. Gambar model TIRTA berikut ini dapat membantu Anda agar lebih terarah dalam melakukan sesi coaching

C.   KETERKAITAN COACHING DENGAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.

Selanjutny untuk mengetahui bagaimana kita dapat melakukan pemetaan kebutuhan belajar murid. Menurut Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek. 

Ketiga aspek tersebut adalah:

1)   Kesiapan belajar (readiness) yaitu kapasitas/kesiapan murid untuk memperlajari materi baru seperti pengetahuan konsep atau keterampilan awal  yang dapat dilakukan dengan cara melihat hasil pembelajaran sebelumnya.

2)   Minat murid yaitu keadaan mental yang menghasilkan respon terarah kepada situasi /objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan kepadanya, hal ini bisa dilakukan dengan memberikan kebebasan murid untuk menentukan sesuai minat dan bakat yang dikuasainya yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang akan diberikan.

3)   Profil belajar murid yaitu Pendekatan yang disukai murid untuk belajar yang dipengaruhi oleh gaya berfikir, kecerdasan,budaya latar belakang, jenis kelamin, dan lain-lain.

Tujuan dari pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien

Dan beberapa strategi pembelajaran Berdiferensiasi adalah sebagai berikut :

1.    Diferensiasi Konten. Yaitu mengacu pada apa yang diperlajari dan materi pelajaran yang disajikan kontenya. Hal ini juag harus memperhatikan bagaimana kesiapan belajar murid, tentang siapa yang akan diberikan, apakah bahan yang diberikan mendasar atau dikembangkan dengan ide-ide, bersifat abstrak atau konkret atau yang lainnya. Selanjutnya perlu juga memperhatikan Minat murid, seperti guru memberik teks topik sesuai dengan hal-hal yang disukai murid. Selain itu juga harus sesuai profil belajar siswa (Gaya Belajar)

7.    Diferensiasi Proses. Yaitu mengacu pada modifikasi aktivitas instruksional atau model pembelajaran yang digunakan oleh guru untuk memastikan bahwa siswa menggunakan “keterampilan kunci” untuk menganalisis gagasan dan informasi.

8.    Diferensiasi Produk yaitu tagihan atau hasil kerja yang dihasilkan dari murid yang mencerminkan pemahaman murid dan berhubungan dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan, dengan produk yang bervariasi sesuai pilihan yang murid inginkan.

Pembelajaran berdiferensiasi memberikan kesempatan murid untuk belajar sesuai dengan kesiapan belajar, minat dan profil belajarnya agar dapat mengembangkan bakat dan potensi yang mereka miliki. Dan ini sejalan dengan tujuan praktek  Coaching dilakukan di sekolah terhadap murid yaitu untuk membantu mengembangkan kekuatan kodrat (potensi) yang dimiliki murid.

 

D.   KETERKAITAN COACHING DENGAN PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional.

   Pembelajaran sosial dan emosional bertujuan untuk :
1) memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola  emosi
2) menetapkan dan mencapai tujuan positif
3) merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain
4) membangun dan mempertahankan hubungan yang positif serta
5) membuat keputusan yang bertanggung jawab. 
Pembelajaran sosial dan emosional dapat diberikan dalam tiga ruang lingkup: 

1.    Rutin:  pada saat kondisi yang sudah ditentukan di luar waktu belajar akademik, misalnya kegiatan lingkaran pagi (circle time), kegiatan membaca  setelah jam makan siang

2.    Terintegrasi dalam mata pelajaran: misalnya melakukan refleksi setelah menyelesaikan sebuah topik pembelajaran, membuat diskusi  kasus atau kerja kelompok untuk memecahkan masalah, dll.

3.    Protokol: menjadi budaya atau aturan  sekolah yang  sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau  sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi atau kejadian tertentu. Misalnya, menyelesaikan konflik  yang terjadi dengan membicarakannya tanpa kekerasan,  mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, dll

Peran seorang coach (pendidik) adalah menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat, sehingga dengan proses coaching guru dapat menfasilitasi dan menumbuhkan  Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) pada diri murid sehingga mereka memiliki karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

 

 DAFTAR PUSTAKA

 https://david-pranata.com/beda-coaching-mentoring-consulting-training-speaking/

https://lms20-gp.simpkb.id/course/view.php?id=53&sectionid=1233

https://lms20-gp.simpkb.id/course/view.php?id=53&sectionid=1235